DURI - Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mandau kembali menjadi sorotan publik setelah seorang warga bernama Sudirman Chan merupakan orang tua dari seorang pasien yang telah meninggal dunia (Almarhum), menyampaikan keluh kesah dan kekecewaannya melalui media sosial,
Ia menduga telah terjadi kelalaian serius dari tenaga medis terkait prosedur pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). khususnya di bagian radiologi dan farmasi, yang dianggap berisiko fatal bagi keselamatan pasien.
Sudirman mengungkapkan bahwa dirinya masih menyimpan bukti fisik hasil ronsen anaknya yang menunjukkan ketidaksesuaian data identitas yang sangat mencolok. Meskipun pihak keluarga sudah menyerahkan KTP sebagai rujukan data, tanggal lahir yang tertera pada hasil ronsen berbeda jauh dengan data asli, dengan selisih mencapai 10 tahun.
"Saya masih simpan bukti kelalaian tenaga scanner/ronsen di RSUD. Jelas-jelas diberikan KTP, tapi tanggal, bulan, dan tahun lahir di hasil ronsen berbeda 10 tahun. Pertanyaan saya, apakah itu benar ronsen anak saya? Jika dokter berpedoman pada data yang salah tersebut, tentu sangat berisiko bagi diagnosa dan tindakan medis," ungkap Sudirman dalam keterangannya.
Selain masalah identitas, Sudirman juga menyoroti lemahnya Pelayanan Informasi Obat (PIO) di apotek RSUD. Ia mengaku tidak mendapatkan penjelasan mengenai aturan pakai obat khusus yang seharusnya dihentikan jika gejala tertentu hilang.
Berdasarkan keterangan keluarga, obat yang diberikan untuk menangani pendarahan tersebut dikonsumsi secara rutin (3x1) karena tidak adanya instruksi khusus dari dokter maupun apoteker untuk menghentikan dosis jika pendarahan berhenti.
"Pihak RSUD tidak menjelaskan bahwa obat ini hanya dimakan jika ada darah keluar dan harus berhenti jika sudah tidak berdarah. Setelah diperiksa oleh keluarga kami yang paham medis, ternyata obat tersebut berisiko fatal jika dikonsumsi terus-menerus, yakni dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah," tambahnya.
Kejadian ini memicu keprihatinan mendalam mengenai standar keselamatan pasien (Patient Safety) di RSUD tersebut. Keluarga berharap kejadian ini menjadi evaluasi total bagi pihak manajemen rumah sakit agar tidak ada lagi pasien lain yang menjadi korban akibat ketidakprofesionalan staf medis dan administrasi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga masih mempertimbangkan langkah selanjutnya terkait bukti-bukti kelalaian yang mereka miliki untuk menuntut keadilan bagi almarhum. (Red)
